Subuh, Disiplin, dan Karakter Mahasiswa ITS

Terkini 13 Aug 2026 10:50 • 5 min read • 107 views • By Redaksi: PerwirasatuNews.my.id

Share berita ini

Subuh, Disiplin, dan Karakter Mahasiswa ITS
PerwirasatuNews.my.id, 13 Agustus 2026.Ketika sebagian besar kota masih terlelap, ribuan mahasiswa baru ITS justru bergerak menuju Masjid Manarul Ilmi...

PerwirasatuNews.my.id, 13 Agustus 2026.

Ketika sebagian besar kota masih terlelap, ribuan mahasiswa baru ITS justru bergerak menuju Masjid Manarul Ilmi. Pemandangan ini bukan sekadar kisah tentang bangun lebih pagi, melainkan gambaran tentang bagaimana perguruan tinggi mencoba mempertemukan kecerdasan, disiplin, spiritualitas, dan tanggung jawab. Dari tradisi Cinta Subuh hingga PSB, ITS menawarkan sebuah pesan penting: pendidikan tinggi tidak cukup hanya membuat seseorang semakin pintar saja.

Ada sesuatu yang menarik dari julukan “Institut Tangi Subuh” yang kembali muncul di media sosial. Tangi dalam bahasa Jawa berarti bangun. Julukan itu memang jenaka, tetapi tradisi tersebut bukan fenomena sesaat. Pada 2015, Gerakan ITS Cinta Shubuh diluncurkan dan sekitar 5.000 jamaah memadati Masjid Manarul Ilmi. ITS bahkan mengerahkan bus dan menyediakan tempat bermalam bagi mahasiswa yang datang dari jauh. (Sumber: ITS News, “Heboh, 5000 Jamaah Shubuh Padati MMI”, 29 Agustus 2015.)

Keseriusan itu penting dicatat. Mengajak ribuan mahasiswa datang sebelum Subuh membutuhkan mobilisasi, keamanan, transportasi, pengaturan ruang, dan kepedulian terhadap peserta. Sejak awal, kegiatan tersebut tidak semata diarahkan pada ritual, tetapi juga pada pembentukan kebiasaan dan tanggung jawab. Pada 2019, ITS kembali mencatat Cinta Shubuh sebagai agenda tahunan yang wajib diikuti mahasiswa baru muslim, dengan sekitar 6.000 jamaah memenuhi Masjid Manarul Ilmi. (Sumber: ITS News, “Gerakan ITS Cinta Shubuh, Bangun Budaya Sholat Berjamaah”, 19 Agustus 2019.)

Maknanya menjadi lebih luas ketika dilihat dari fase kehidupan mahasiswa. Memasuki perguruan tinggi berarti memperoleh kebebasan lebih besar: menentukan waktu tidur, belajar, berorganisasi, memilih pergaulan, hingga mengatur kehidupan sehari-hari. Kebebasan adalah modal kedewasaan, tetapi tanpa pengendalian diri ia mudah berubah menjadi ketidakteraturan. Karena itu, bangun sebelum fajar, bersiap, datang tepat waktu, dan memulai hari dengan tertib dapat dibaca sebagai latihan sederhana mengelola diri.

Ketika pandemi mengubah banyak kegiatan kampus, gagasan pembinaan tetap dipertahankan melalui Pelatihan Spiritual dan Kebangsaan atau PSB. ITS menjelaskan bahwa PSB memuat wawasan kebangsaan, etika profesionalisme, spiritualitas, serta pengembangan kecerdasan emosional dan intelektual. Pembinaan spiritual juga dikembalikan pada pengajaran agama masing-masing mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa sejak awal PSB dirancang lebih luas daripada kegiatan seremonial keagamaan. (Sumber: Direktorat Kemahasiswaan ITS, “Transisi Mahasiswa Baru Pada Pelatihan Spiritual dan Kebangsaan (PSB) ITS”, 11 Agustus 2023.)

Pada 2023, dimensi itu tampak nyata. Sekitar 5.200 mahasiswa baru diberangkatkan sekitar pukul 03.30 untuk shalat Subuh berjamaah di Masjid Manarul Ilmi, dan sebagian peserta sudah datang sejak 02.30. Setelah shalat, kegiatan diteruskan dengan membaca Al-Qur’an dan materi spiritual. PSB juga menempatkan spiritualitas sebagai bagian dari proses transisi dari siswa menjadi mahasiswa. (Sumber: Masjid Manarul Ilmi ITS, “Langkah Epik PSB ITS: 5200 Mahasiswa Baru Kompak dalam Sholat Subuh dan Mengaji Bersama”, 14 Agustus 2023.)

Setahun kemudian, pola tersebut berlanjut dengan skala sekitar 5.400 mahasiswa baru muslim pada PSB 2024. Mereka datang sejak 02.30 WIB untuk mengikuti Subuh berjamaah. Panitia menata parkir, saf, sarapan, layar, videotron, hingga absensi QR Code. Ada ironi yang menarik: kegiatan spiritual itu dikelola dengan perangkat teknologi khas kampus modern. Namun justru di situlah terlihat bahwa pembinaan diperlakukan sebagai bagian resmi dari pengelolaan mahasiswa baru. (Sumber: Masjid Manarul Ilmi ITS, “ITS Ajak 5400 Mahasiswa Baru Sholat Shubuh Berjama’ah, ‘ITS: Institut Tangi Shubuh!’”, 6 Agustus 2024.)

Meski demikian, keberhasilan program semacam ini tidak boleh berhenti pada foto masjid yang penuh. Ribuan mahasiswa dapat dikumpulkan karena ada jadwal, panitia, kewajiban, dan absensi. Tantangan pendidikan yang sesungguhnya muncul setelah semua perangkat itu dilepas. Apakah mahasiswa tetap mampu mengatur waktu, menjaga amanah, tidak mencontek, tidak titip absen, dan tetap bertanggung jawab ketika tidak ada yang mengawasi? Di sinilah pendidikan karakter diuji.

Kelanjutan pembinaan melalui Mentoring Wajib Agama Islam pada 2024 menjadi bagian yang patut diapresiasi. ITS mencatat sekitar 3.000 mahasiswa baru dari sejumlah fakultas mengikuti pembukaan mentoring. Kegiatan itu disebut sebagai kelanjutan rangkaian spiritual setelah PSB, dengan materi tauhid, akidah dan akhlak, ibadah, serta sirah Nabawi. Artinya, ada upaya agar pembinaan tidak berhenti pada satu pagi atau satu agenda PKKMB. (Sumber: Masjid Manarul Ilmi ITS, “Grand Opening Mentoring Wajib Agama Islam ITS: Jadikan Masjid sebagai Tempat Merefresh Diri!”, 27 Agustus 2024.)

Hal ini juga relevan bagi ITS sebagai perguruan tinggi yang kuat dalam teknologi dan rekayasa. Dunia membutuhkan ilmuwan, insinyur, programmer, dokter, perancang, analis data, dan profesional yang mampu menghasilkan solusi. Tetapi kemampuan teknis tidak otomatis melahirkan integritas. Pengetahuan yang tinggi dapat digunakan untuk memperbaiki kehidupan, tetapi juga dapat disalahgunakan. Karena itu, pendidikan karakter bukan lawan kemajuan teknologi; justru karakter menjadi fondasi agar ilmu dan teknologi digunakan secara bertanggung jawab.

Pendekatan ITS juga patut dilihat dalam konteks keberagaman. Publikasi kampus menyebut pembinaan spiritual diberikan sesuai agama masing-masing, sementara PSB memadukan spiritualitas dengan kebangsaan, etika profesionalisme, dan moderasi beragama. Ini penting agar pembentukan nilai tidak berubah menjadi penghapusan perbedaan. Kampus dapat menumbuhkan disiplin dan tanggung jawab sekaligus menjaga ruang bagi mahasiswa untuk bertumbuh sesuai keyakinannya. (Sumber: Direktorat Kemahasiswaan ITS dan Masjid Manarul Ilmi ITS, publikasi PSB 2023.)

Evaluasi juga penting: kewajiban dapat menjadi pemantik, tetapi kesadaranlah yang membuat kebiasaan bertahan. Di situlah pendidikan membantu mahasiswa beralih dari disiplin karena aturan menuju disiplin karena nilai. Dalam kehidupan nyata.

Yang menarik bukan sekadar mahasiswa bangun ketika kota masih gelap. Yang lebih penting adalah apa yang mereka bawa setelah matahari terbit. Jika pengalaman itu membuat mereka lebih disiplin, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan menggunakan ilmu untuk kemaslahatan, maka kegiatan tersebut telah melampaui seremoni. “Institut Tangi Subuh” boleh menjadi candaan, tetapi pesannya serius: perguruan tinggi bukan hanya tempat membuat seseorang semakin pintar, melainkan ruang untuk belajar menjadi manusia yang mampu menggunakan kepintarannya dengan benar.

Karena itu, tradisi Subuh berjamaah di ITS layak diapresiasi sekaligus terus dievaluasi. Ukuran keberhasilannya bukan seberapa banyak mahasiswa hadir sebelum fajar, melainkan seberapa banyak nilai baik yang tetap hidup ketika panitia, jadwal, dan QR Code sudah tidak ada. Pendidikan yang berhasil bukan yang membuat mahasiswa patuh sesaat, tetapi yang perlahan membuat mereka mampu mendisiplinkan dirinya sendiri. Dari situlah Subuh dapat berubah dari sebuah agenda menjadi karakter.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Ad
test1
Perwira Satu News