Bijak Mengelola Hidup Tanpa Utang
Perwirasatu.my.id, 03 Agustus 2026.
Di tengah kehidupan modern, banyak orang merasa harus selalu mengikuti gaya hidup yang sedang menjadi tren. Keinginan untuk tampil mewah, memiliki barang terbaru, menikmati tempat-tempat bergengsi, atau memenuhi standar kehidupan yang dibentuk oleh lingkungan sering kali mengalahkan kemampuan finansial yang sebenarnya. Akibatnya, tidak sedikit orang yang rela berutang demi menjaga citra di hadapan manusia. Padahal, kebahagiaan sejati tidak pernah ditentukan oleh kemewahan yang tampak, melainkan oleh ketenangan hati, keberkahan rezeki, dan rasa syukur kepada Allah. Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi dari ketakwaan dan kemampuannya menjaga amanah, termasuk amanah dalam mengelola harta.
Allah Swt. telah mengingatkan manusia agar tidak hidup berlebihan dan melampaui batas dalam menggunakan harta. Sikap sederhana bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kebijaksanaan dalam menyikapi nikmat yang telah Allah titipkan. Orang yang mampu mengendalikan keinginannya akan lebih mudah memperoleh ketenteraman dibandingkan mereka yang selalu diperbudak oleh hawa nafsu dan gengsi.
Allah Swt. berfirman:
﴿وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ﴾
"Dan makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31)
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam membelanjakan harta, harus berada pada jalan pertengahan. Berlebih-lebihan dalam konsumsi akan melahirkan pemborosan, sedangkan pemborosan sering menjadi pintu masuk lahirnya utang yang sebenarnya dapat dihindari.
Tidak sedikit orang yang sebenarnya memiliki penghasilan yang cukup, tetapi tetap merasa kekurangan karena selalu membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Media sosial semakin memperkuat dorongan tersebut. Apa yang terlihat indah di layar sering kali membuat seseorang merasa hidupnya kurang sempurna. Padahal, apa yang ditampilkan belum tentu mencerminkan keadaan sebenarnya. Islam mengajarkan agar seorang mukmin lebih banyak melihat kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia agar tumbuh rasa syukur, bukan terus memandang kepada mereka yang lebih tinggi sehingga hati dipenuhi rasa iri dan tidak pernah puas.
Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan hidup yang sangat sederhana meskipun beliau memiliki kedudukan paling mulia di sisi Allah. Kesederhanaan beliau bukan karena kekurangan, melainkan karena hati beliau tidak bergantung kepada kemewahan dunia. Beliau mengajarkan bahwa kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa, bukan banyaknya harta benda.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
"Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa seseorang dapat memiliki harta melimpah tetapi tetap merasa miskin karena selalu ingin lebih. Sebaliknya, orang yang pandai bersyukur akan merasakan kecukupan meskipun hartanya tidak banyak.
Islam juga memberikan perhatian besar terhadap persoalan utang. Pada dasarnya, utang diperbolehkan apabila memang diperlukan, terutama untuk kebutuhan yang mendesak dan halal. Namun, utang bukanlah jalan hidup yang dianjurkan untuk memenuhi keinginan yang sebenarnya dapat ditunda. Rasulullah ﷺ bahkan sering memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari beban utang karena utang dapat menjadi sumber kegelisahan, tekanan batin, bahkan mendorong seseorang melakukan kebohongan dan mengingkari janji.
Doa yang sering dibaca Rasulullah ﷺ adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan utang."
Ketika ditanya mengapa beliau sering berdoa demikian, Rasulullah ﷺ menjelaskan:
إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ
"Sesungguhnya seseorang apabila terlilit utang, ia akan berbicara lalu berdusta, dan berjanji lalu mengingkari." (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa utang bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga dapat memengaruhi akhlak seseorang apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya sangat berhati-hati sebelum memutuskan untuk berutang.
Apabila memang keadaan memaksa sehingga seseorang harus berutang, hendaknya ia meluruskan niat untuk segera melunasinya. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira kepada orang yang memiliki niat baik dalam melunasi utangnya.
Beliau bersabda:
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ
"Barang siapa mengambil harta manusia dengan niat ingin melunasinya, maka Allah akan membantunya melunasinya. Dan barang siapa mengambilnya dengan niat merusaknya atau tidak mengembalikannya, maka Allah akan membinasakannya." (HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa niat yang benar harus diwujudkan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Menunda pembayaran padahal mampu adalah bentuk kezaliman, sedangkan bersungguh-sungguh melunasi utang merupakan bagian dari amanah seorang mukmin.
Karena itu, biasakanlah hidup sesuai kemampuan, membuat perencanaan keuangan yang baik, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menanamkan sifat qanaah dalam hati. Jangan biarkan gengsi mengendalikan langkah hidup. Kemewahan yang dibangun di atas utang hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat, tetapi menyisakan kegelisahan yang panjang. Sebaliknya, kehidupan yang sederhana, penuh syukur, bebas dari utang, dan dipenuhi keberkahan akan menghadirkan ketenangan yang jauh lebih bernilai daripada segala kemegahan dunia. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang selalu merasa cukup, rezeki yang halal dan berkah, kemampuan menjaga amanah harta, serta perlindungan dari utang yang memberatkan kehidupan di dunia maupun pertanggungjawaban di akhirat. Aamiin.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles